Monday, 27 May 2013

MAHASISWA, MAHASISWA, MAHASISWA!


Posisi mahasiswa dalam kehidupan politik di Indonesia selama ini adalah diantara masyarakat dan pemerintahan, yang berarti sangat strategis dan penting yang tak kalah untuk diperhitungkan. Karena itu eran strategis organisasi mahasiswa dalam dinamika politik Indonesia menjelang pemilu 2014 sangat diperlukan mengingat mahasiswa mayoritas belum mempunyai kepentingan dalam politik. Apalagi sekarang ini, media yang seharusnya pada posisis netral pun menjadi tempat menggiring isu dan saling sikut menyikut demi kepentingan pemilik modal. Akibatnya masyarakat yang awam dan tidak sadar akan politik menjadi mudah terhasut dan termakan oleh berita-berita yang disiarkan.
Disinilah arti pentingnya mahasiswa dalam dunia perpolitikan, dimana posisi mereka harusnya lebih bebas menilai dan memiliki idealisme yang kuat dan tak mudah terombang ambing oleh isu sana-sini. Dalam organisasi kampus (BEM, HIMA, UKM dsb) biasanya dicetak para mahasiswa yang berorientasi pada kepentingan masyarakat banyak bukan pada kepentingan dirinya sendiri. Dan dari sinilah tercipta insan yang memiliki idealisme tinggi dalam membela kepentingan publik. Itulah sebabnya mahasiswa harus kritis dalam melihat situasi kondisi yang terjadi dalam masyarakat. Mahasiswa mempunyai energi dan potensi positif bagi masa depan bangsa, sehingga harus dikelola dengan baik oleh civitas akademika kampus dan para pemangku kepentingan.
Menjelang pemilu 2014, salah satu konflik yang belakangan ini terjadi adalah isu kudeta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 27 Maret 2013. Gerakan mahasiswa yang tergabung dalam Konsolidasi Nasional Mahasiswa Indonesia (Konami) mengeluarkan maklumat SBY-Boediono harus mundur dari jabatannya. Gerakan mahasiswa itu diikuti 128 Kampus dari 40 kota di Indonesia. Mereka mengatakan bahwa mahasiswa sudah kembali pada tracknya sebagai agen perubahan yang jauh dari politik praktis, bahwa gerakan mereka bebas dari kepentingan politik. Mahasiswa menganggap mereka adalah eksekutor yang akan mengantarkan SBY pada kejatuhannya, karena dianggap telah gagal menjalankan tugasnya sebagai pemimpin Negara. Seiring terjadinya konflik tersebut, pro dan kontra pasti terjadi dilingkungan masyarakat baik yang awam maupun ‘melek politik’. Belum ada yang paling benar dan paling salah, kita hanya bisa menarik hikmah positif dari semua konflik yang terjadi belakangan, misalnya, jika sampai menjelang 2014 tidak ada gejolak politik signifikan maka Pemilu 2014 akan berlangsung sebagaimana pemilu-pemilu sebelumnya dan pemenangnya sudah dapat diketahui sejak saat ini. Jika tidak ada tokoh muda (mahasiswa) yang visioner, memiliki idealisme tinggi, anti-subjektif dan memiliki leadership yang kuat untuk menyeleksi calon pemerintah NKRI, maka pemenang pemilu presiden kemungkinan besar akan bejalan dengan pola yang sama, yakni dimenangkan oleh sosok yang popular dan memiliki modal kapital yang besar. Bukan oleh mereka yang minus popularitas apalagi yang minus modal kapital.

No comments:

Post a Comment