Posisi mahasiswa
dalam kehidupan politik di Indonesia selama ini adalah diantara masyarakat dan
pemerintahan, yang berarti sangat strategis dan penting yang tak kalah untuk
diperhitungkan. Karena itu eran strategis organisasi mahasiswa dalam dinamika
politik Indonesia menjelang pemilu 2014 sangat diperlukan mengingat mahasiswa
mayoritas belum mempunyai kepentingan dalam politik. Apalagi sekarang ini,
media yang seharusnya pada posisis netral pun menjadi tempat menggiring isu dan
saling sikut menyikut demi kepentingan pemilik modal. Akibatnya masyarakat yang
awam dan tidak sadar akan politik menjadi mudah terhasut dan termakan oleh
berita-berita yang disiarkan.
Disinilah
arti pentingnya mahasiswa dalam dunia perpolitikan, dimana posisi mereka
harusnya lebih bebas menilai dan memiliki idealisme yang kuat dan tak mudah
terombang ambing oleh isu sana-sini. Dalam organisasi kampus (BEM, HIMA, UKM
dsb) biasanya dicetak para mahasiswa yang berorientasi pada kepentingan
masyarakat banyak bukan pada kepentingan dirinya sendiri. Dan dari sinilah
tercipta insan yang memiliki idealisme tinggi dalam membela kepentingan publik.
Itulah sebabnya mahasiswa harus kritis dalam melihat situasi kondisi yang
terjadi dalam masyarakat. Mahasiswa
mempunyai energi dan potensi positif bagi masa depan bangsa, sehingga harus
dikelola dengan baik oleh civitas akademika kampus dan para pemangku
kepentingan.
Menjelang pemilu 2014, salah satu konflik yang
belakangan ini terjadi adalah isu kudeta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada
tanggal 27 Maret 2013. Gerakan mahasiswa yang
tergabung dalam Konsolidasi Nasional Mahasiswa Indonesia (Konami) mengeluarkan
maklumat SBY-Boediono harus mundur dari jabatannya. Gerakan mahasiswa itu diikuti
128 Kampus dari 40 kota di Indonesia. Mereka mengatakan bahwa mahasiswa sudah
kembali pada tracknya sebagai agen perubahan yang jauh dari politik praktis,
bahwa gerakan mereka bebas dari kepentingan politik. Mahasiswa
menganggap mereka adalah eksekutor yang akan mengantarkan SBY pada
kejatuhannya, karena dianggap telah gagal menjalankan tugasnya sebagai pemimpin
Negara. Seiring terjadinya konflik tersebut, pro dan kontra pasti terjadi
dilingkungan masyarakat baik yang awam maupun ‘melek politik’. Belum ada yang
paling benar dan paling salah, kita hanya bisa menarik hikmah positif dari
semua konflik yang terjadi belakangan, misalnya, jika sampai menjelang 2014 tidak ada gejolak
politik signifikan maka Pemilu 2014 akan berlangsung sebagaimana pemilu-pemilu
sebelumnya dan pemenangnya sudah dapat diketahui sejak saat ini. Jika tidak ada
tokoh muda (mahasiswa) yang visioner, memiliki idealisme tinggi, anti-subjektif
dan memiliki leadership yang kuat untuk menyeleksi calon pemerintah NKRI, maka pemenang
pemilu presiden kemungkinan besar akan bejalan dengan pola yang sama, yakni
dimenangkan oleh sosok yang popular dan memiliki modal kapital yang besar. Bukan
oleh mereka yang minus popularitas apalagi yang minus modal kapital.
No comments:
Post a Comment