I know I can't be much better than Kim Young, but it's not really bad anyway, is it? :'-)
Wednesday, 7 August 2013
Friday, 28 June 2013
INFINITY NECKLACE (One of my favorites scene of MASK[s]!)
Dengan mudah aku membuka kotak berlapis beludru berwarna tosca itu, lalu meraih benda yang ada didalamnya.
“Angkat rambutmu,” perintahku.
Ia menurut dan menggenggam rambutnya dalam satu ikatan tangan, lalu
menyingkapkannya melewati bahu, menunggu.
Akhirnya, kalung itu
terpasang di lehernya. Liontinnya berbentuk dua huruf ‘S’ dengan satunya dalam
posisi terbalik yang bersilangan sehingga bentuknya mirip angka 8 yang mungil. Dua huruf ‘S’ itu adalah inisial nama kami, sedangkan
angka 8 yang terbentuk dari keduanya melambangkan Infinity—cinta
yang tak terbatas sepanjang masa.
Infinity Heart silver Tiffany & Co. by Mctdesigns. Illustration edited by: Aya Swords
Thursday, 27 June 2013
INI DIA LINK-LINK LOMBA MENULIS 2013! Yuk, nulis yuk :-)
http://bentangpustaka.com/2013/06/lomba-cerpen-bareng-onyol/
http://blogdivapress.com/dvp/2013/06/17/lomba-cerpen-teen-horror-horor-teenlit/
http://nurhudayantisaleh.wordpress.com/2013/05/28/lomba-menulis-flashfiction-2013-dl-31-juli-2013/
http://ayaswords.tumblr.com/post/54007195626/lomba-menulis-keajaiban-dunia-bagiku-by-penerbit
http://blogdivapress.com/dvp/2013/06/17/lomba-cerpen-teen-horror-horor-teenlit/
http://nurhudayantisaleh.wordpress.com/2013/05/28/lomba-menulis-flashfiction-2013-dl-31-juli-2013/
http://ayaswords.tumblr.com/post/54007195626/lomba-menulis-keajaiban-dunia-bagiku-by-penerbit
Wednesday, 26 June 2013
This :'-) WHITE HORSE - TAYLOR SWIFT
Say you're sorry, that face of an angel
(Kau) bilang kau menyesal, wajah malaikatmu itu
Comes out just when you need it to
Keluar hanya saat kau membutuhkannya
As I paced back and forth all this time
Saat aku ragu selama ini
Cause I honestly believed in you
Karena sejujurnya dulu aku percaya padamu
Holding on the days drag on
Berpegangan pada hari-hari lalu
Stupid girl, I should've known
Gadis bodoh, harusnya aku tahu
I should've known
Harusnya aku tahu
CHORUS
I'm not a princess, this ain't a fairytale
Aku bukanlah seorang putri, ini bukan dongeng
I'm not the one you'll sweep off her feet
Aku bukan seorang yang akan kau usap kakinya
Lead her up the stairwell
Menuntunnya naiki tangga
This ain't hollywood, this is a small town
Ini bukanlah hollywood, ini adalah kota kecil
I was a dreamer before you went and let me down
Dulu aku seorang pemimpi sebelum kau datang dan kecewakanku
Now it's too late for you and your white horse
Kini terlambat sudah bagimu dan kuda putihmu
To come around
Untuk datang
Baby I was naïve, got lost in your eyes
Kasih, aku memang naif, terpesona oleh tatapanmu
And never really had a chance
Dan tak punya kesempatan
My mistake, I didn't know to be in love
Salahku, aku dulu tak tahu rasanya jatuh cinta
You had to fight to have the upper hand
Kau harus berjuang tuk dapatkanku
I had so many dreams about you and me
Mimpiku tentang dirimu dan diriku sangat banyak
Happy endings, well now I know
Akhir bahagia, kini aku tahu
CHORUS
And there you are on your knees
Dan kini kau berlutut
Begging for forgiveness, begging for me
Memohon ampunan, memohon padaku
Just like I always wanted, but I'm so sorry. . .
Seperti yang dulu kuinginkan, tapi maafkan aku
Cause I'm not your princess, this ain't a fairytale
Karena aku bukan seorang putri, ini bukanlah dongeng
I'm gonna find someone someday
Kan kutemukan pria lain
Who might actually treat me well
Yang kan perlakukanku dengan baik
This is a big world, that was a small town
Ini adalah dunia yang luas, itu hanyalah kota kecil
There in my rearview mirror disappearing now
Semuanya menghilang di kaca spionku
And it's too late for you and your white horse
Dan terlambat sudah bagimu dan kuda putihmu
Now it's too late for you and your white horse
Kini terlambat sudah bagimu dan kuda putihmu
To catch me now
Untuk mengejarku
Oh try and catch me now
Oh cobalah mengejarku
It's too late to catch me now
Kini terlambat sudah tuk mengejarku
(Kau) bilang kau menyesal, wajah malaikatmu itu
Comes out just when you need it to
Keluar hanya saat kau membutuhkannya
As I paced back and forth all this time
Saat aku ragu selama ini
Cause I honestly believed in you
Karena sejujurnya dulu aku percaya padamu
Holding on the days drag on
Berpegangan pada hari-hari lalu
Stupid girl, I should've known
Gadis bodoh, harusnya aku tahu
I should've known
Harusnya aku tahu
CHORUS
I'm not a princess, this ain't a fairytale
Aku bukanlah seorang putri, ini bukan dongeng
I'm not the one you'll sweep off her feet
Aku bukan seorang yang akan kau usap kakinya
Lead her up the stairwell
Menuntunnya naiki tangga
This ain't hollywood, this is a small town
Ini bukanlah hollywood, ini adalah kota kecil
I was a dreamer before you went and let me down
Dulu aku seorang pemimpi sebelum kau datang dan kecewakanku
Now it's too late for you and your white horse
Kini terlambat sudah bagimu dan kuda putihmu
To come around
Untuk datang
Baby I was naïve, got lost in your eyes
Kasih, aku memang naif, terpesona oleh tatapanmu
And never really had a chance
Dan tak punya kesempatan
My mistake, I didn't know to be in love
Salahku, aku dulu tak tahu rasanya jatuh cinta
You had to fight to have the upper hand
Kau harus berjuang tuk dapatkanku
I had so many dreams about you and me
Mimpiku tentang dirimu dan diriku sangat banyak
Happy endings, well now I know
Akhir bahagia, kini aku tahu
CHORUS
And there you are on your knees
Dan kini kau berlutut
Begging for forgiveness, begging for me
Memohon ampunan, memohon padaku
Just like I always wanted, but I'm so sorry. . .
Seperti yang dulu kuinginkan, tapi maafkan aku
Cause I'm not your princess, this ain't a fairytale
Karena aku bukan seorang putri, ini bukanlah dongeng
I'm gonna find someone someday
Kan kutemukan pria lain
Who might actually treat me well
Yang kan perlakukanku dengan baik
This is a big world, that was a small town
Ini adalah dunia yang luas, itu hanyalah kota kecil
There in my rearview mirror disappearing now
Semuanya menghilang di kaca spionku
And it's too late for you and your white horse
Dan terlambat sudah bagimu dan kuda putihmu
Now it's too late for you and your white horse
Kini terlambat sudah bagimu dan kuda putihmu
To catch me now
Untuk mengejarku
Oh try and catch me now
Oh cobalah mengejarku
It's too late to catch me now
Kini terlambat sudah tuk mengejarku
Email This
CUPLIKAN-CUPLIKAN KECIL (from my favourite scenes of MASK[s]!)
“Kau
tidak benar-benar menyangka kau ini korban kejahatan atau apa bukan? Mengapa wajahmu
tegang begitu?” Stefhan meringis.
“Hanya..
terlalu banyak asumsi dalam otakku.” dalihku singkat.
Stefhan
meraih tanganku, menggenggamnya lembut lalu menariknya ke bibir. Ia mengecup
punggung tanganku. “Simpan dulu asumsi-asumsimu itu, nanti akan kutanyakan lagi
satu persatu.”
“Hmmm.”
aku tak sanggup berkata-kata. Tak lama, kami sampai di sebuah pintu yang
tingginya dua setengah kaki. Pintu itu berwarna coklat polos dengan kenop
berwarna emas yang elegan. Stefhan membukanya pelan-pelan dan pintu itu sama
sekali tak mengeluarkan suara.
“Ini..
kamarku.” Stefhan memberitahuku.
Kamar itu
begitu luas, dua kali lipat lebih besar dari kamar di apartemenku. Dindingnya
berwarna abu-abu pucat, berbeda dengan
warna dinding disepanjang sudut dalam rumah yang barusan kami lewati. Diseberang
sana, sejajar dengan pintu, terdapat jendela dengan tirai putih yang menjorok
keluar. Atap kamar Stefhan miring kearah jendelanya. Disisi kanan-kirinya
terdapat masing-masing satu rak buku raksasa seperti yang pernah kulihat sebelumnya.
Rak-rak tersebut penuh dengan buku yang tersusun dengan rapi, terlihat sangat
baru. Disampingnya terdapat sebuah ranjang serba putih berukuran besar,
kerangkanya terbuat dari kayu yang warnanya serupa dengan semua bahan kayu yang
terdapat di seluruh interior rumah.
Namun
bukan itu yang menarik perhatianku.
Hal yang
tak bisa mengalihkan pandanganku adalah topeng-topeng itu. Ada lebih dari 10
lusin topeng menggantung disetiap sudut dinding. Puluhan berkelompok disamping
rak buku, puluhan lagi diatas tempat tidur, lalu disebelah lemari dan didekat
kamar mandi. Topeng-topeng itu bukan topeng bahan kayu atau plastik yang biasa
kau jumpai di pesta-pesta kostum, namun lebih mirip seperti topeng berbahan
karet yang biasa dilihat di berita kriminal; yang biasa dipakai seseorang untuk
merampok atau semacamnya. Warnanya berbeda-beda, semua jenis warna kulit
manusia dari berbagai macam ras. Topeng-topeng ini mempunyai satu macam
ekspresi.
“Apa itu?”
tanyaku spontan, tak berhasil menyembunyikan nada terkejutku.
“Topeng?”
Stefhan menjawab dengan nada bertanya. Aku melihat kearahnya, melihat alisnya
mengkerut. Ketara sekali ia khawatir dengan reaksiku.
“Kau
mengoleksi topeng? Untuk apa?”
“Hanya..
hobi.” Ia ragu-ragu.
Aku
menghampiri sekelompok topeng yang paling dekat dari posisiku berdiri,
disamping lemari pakaian—lalu memicingkan mata, memperhatikan. Topeng-topeng
itu memiliki bentuk wajah yang berbeda-beda dan hanya memiliki lubang di bagian
mata dan lubang hidung. “Bolehkah?” tanyaku. Stefhan mengangguk, mengijinkanku
menyentuh salah satu koleksinya. Permukaannya begitu lembut dan dingin.. kenyal
seperti agar-agar. Topeng yang kusentuh memiliki janggut di dagunya. Seketika
kusentuh bulu-bulu itu, lalu terkesiap.
Topeng
ini asli dan sangat mungkin digunakan
untuk penyamaran.
Stefhan
menghampiriku dengan langkah terseret-seret. “Aku belum bisa menjawab
pertanyaan apapun yang kau ajukan untuk mengetahui ada apa dibalik
topeng-topeng ini, Shenia.” Dahinya mengkerut, seakan cemas kalau-kalau aku
akan memaksa. “Kau mungkin akan mengetahuinya sendiri suatu saat nanti.”
***
Lalu apa yang harus aku lakukan?
Bukankah tadi aku berjanji bahwa aku tak peduli siapa, bahkan apa Stefhan itu sebenarnya? Bukankah aku
ingin tetap mengikutinya, berkecimpung dalam cerita hidupnya?
Terlalu berbahayakah
pilihan itu?
Aku tak bisa memungkiri
bahwa pikiran dan firasat-firasat buruk sedang menyerangku saat ini. Akan lebih
baik sebenarnya bila aku tak pernah bertemu dan mencintai Stefhan, akan lebih
baik sebenarnya bila aku hidup di dunia yang sudah kutinggali selama 17 tahun.
Akan lebih baik bila aku tak pernah terjebak dalam situasi berbahaya macam
apapun yang dapat mengancam nyawaku.
Tapi aku tahu aku tak akan
bisa seperti itu. Mencintai Stefhan adalah pilihan. Setakut apapun, seberbahaya
apapun keputusanku, itu adalah satu-satunya
pilihan. Bersama-sama Stefhan entah sejak kapan menjadi harga mati bagiku. Aku bahkan
tak mungkin mengurangi intensitasku untuk bersamanya, untuk memikirkannya.
Sudah pernah kucoba beberapa kali—tak pernah ada yang berhasil.
Stefhan terlalu banyak mengambil
bagian dalam kehidupanku. Ia terlalu serakah mengambil porsi dan aku tak bisa
melakukan apapun untuk mencegahnya. Aku akan tetap bersamanya, mencintainya, apapun
kenyataan-kenyataan baru yang mungkin akan kuhadapi nantinya.
Aku menarik nafas
dalam-dalam, dari hitungan 1 sampai 8, sebanyak 5 kali berturut-turut.
Pelan-pelan kumatikan keran airnya, menatap kaca dan melatih wajahku sebiasa
mungkin, sewajar yang kubisa. Lalu aku membuka pintu, mencari-carinya, kemudian
melihatnya terduduk di ujung ranjang, menelungkupkan kedua tangannya yang
berpangku pada paha, membungkuk menutupi wajahnya.
Aku menghampirinya
pelan-pelan, duduk disampingnya dan membelai pipinya saat ia memalingkan wajah
untuk menatapku.
“Aku tak peduli siapa kau
ini.” ulangku tegas, kali ini tak ada keraguan sedikitpun didalamnya.
Stefhan memelukku, seerat
yang ia bisa namun tetap menjaga agar tak sampai menyakitiku. Ingin sekali aku
mengusap-usap punggungnya, mengatakan bahwa tak ada yang harus dicemaskan,
semuanya akan baik-baik saja. Namun aku tak punya cukup kekuatan seperti itu.
Sebenarnya aku tak pernah punya kekuatan untuk membuat kesan bahwa aku lebih
tegar dan kuat dari siapapun.
“Terimakasih telah
mendukung keegoisanku.” Suara Stefhan melemah. “Kau terlalu berharga bagiku
sekarang ini, Shenia, aku tak sanggup membuang jauh-jauh egoku.”
“Kau tak perlu
melakukannya. Karena aku juga sangat ingin bersamamu. Anggap saja itu pilihanku
sendiri dan aku sangat memaksamu.”
Stefhan tersenyum dan
membelai pipiku. Punggung tangannya begitu halus, begitu membuatku terbuai.
“Boleh aku meminta satu
hal saja?”
“Apapun.”
“Jangan pernah berpikir
bahwa kau punya cukup alasan untuk meninggalkanku. Aku tak pernah keberatan
mengalami sendiri adegan-adegan di film action
itu, kau tahu.”
Stefhan tertawa lagi, kali
ini tertawa lega. “Sebisa mungkin aku akan selalu menjagamu tetap selamat.” Ia
mengedipkan sebelah matanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
















