HAI! KABAR GEMBIRAAA!
Ada promo besar-besaran nih dari 3 penulis grasindo di '3 March a Cheer'!
Untuk setiap pembelian novel berikut ini:
1. The Hearts Buffet by Tita Rosianti.
2. MASK(s) by Aya Swords
3. Imaginer by Alfira Aryanti.
Kami menyediakan hadiah merchandise lucu serta potongan harga 10%, murah meriah!
Ketiga novel ini keren dan dijamin kamu gak akan nyesel bacanya :D
Oh iya, ada satu surprise lagi buat kamu-kamu yang udah beli salah satu dari 3 novel diatas. Kami akan mengadakan kuis berhadiah novel giveaway! Kamu tinggal pilih dari ketiga novel di atas untuk dimiliki secara free kalau kamu keluar jadi pemenangnya. Excited? Buruan tunggu apalagi, stok terbatas dan batas pemesanan hanya sampai dengan tanggal 30 maret 2014!
Contact Person:
Aya: 081809042593
Alfira: 089650575479
Twitter: @ayaswords @tita_rosianti @alfiraryanti
Friday, 21 March 2014
Sunday, 16 February 2014
MISTERI DIBALIK NOVEL MASK(s)--The Expansion of Human Genome Project (Proyek Pemetaan Gen Dalam Tubuh Manusia)
Sebuah perusahaan Rusia bernama Morgana Kompaniya membuat usulan berupa sebuah program visioner yang memanfaatkan pemetaan karakter pada gen manusia bernama The Expansion of Human Genome Project pada tahun 1990 dan didanai oleh negara-negara maju. Program ini bertujuan untuk mengembangkan sifat-sifat super dalam tubuh manusia dengan cara memasukkan sebuah serum bernama Capitoline Xanthone 8, yang merupakan formula yang dibuat dari olahan kimia dan gen telekinesis--yang kemudian menghasilkan tiga jenis kemampuan super. Hasilnya, manusia yang dijadikan bahan percobaan dari program tersebut akan mempunyai sifat super di dalam tubuh mereka. Orang-orang super ini kemudian disebut dengan Gen Holders (orang-orang pembawa gen) yang berkemampuan Transfigurator, Teleporter, atau Telekinetis.
Transfigurator adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mengubah wujudnya, sehingga orang lain bisa melihatnya dengan wujud yang berbeda dari aslinya. Sebelum dikembangkan, seorang Transfigurator hanya bisa mengandalkan ilusi dari orang yang ia kehendaki, sehingga orang itu melihatnya dengan wujud yang berbeda. Tapi setelah dikembangkan, seorang Transfigurator akan bisa merubah semua sel-sel, organ tubuh, dan rupanya menjadi persis seperti orang yang dikehendakinya (nama lainnya adalah Shape-shifter).
Teleporter adalah seseorang yang bisa mengendalikan/berpindah-pindah ruang dan waktu. Dalam artian disini, ia bisa pergi menjelajah waktu baik itu ke masa lalu, ke masa depan, atau ke tempat-tempat yang dikehendakinya. Bila dikembangkan, seorang Teleporter juga akan bisa melakukan penghentian, perlambatan, dan percepatan waktu.
Telekinetis adalah seseorang yang mempunya kemampuan untuk memindahkan benda atau apapun hanya dengan kekuatan pikiran, dalam arti ia tak perlu berada di dekat atau bahkan menyentuh objek yang akan ia pindahkan sama sekali. Setelah dikembangkan, seorang telekinesis akan bisa mengendalikan semua elemen yang ada di sekitarnya seperti angin, api, air dan tanah. Telekinetis terbagi menjadi telekinetis pure dan non-pure.
Para Gen Holders di dunia tentunya mempunyai beberapa golongan, yaitu: Jupiter, Minerva, dan Juno.
Setiap Jupiter adalah gen holder yang telah mengembangkan kemampuan super dalam dirinya, sehingga ia mendapatkan kemampuan-kemampuan lain yang telah dikembangkan dari kemampuan asalnya (misalnya seorang Jupiter Teleporter, tadinya ia hanya bisa menjelajah waktu, tapi setelah menjadi seorang Jupiter ia akan mampu menghentikan, mempercepat, memperlambat waktu, memprediksi masa depan dan masa lalu, dan lain-lain sesuai kemampuannya).
Seorang Juno adalah gen holder yang tidak pernah mengembangkan kemampuannya, dan hanya memanfaatkan kemampuan dasarnya saja.
Minerva adalah seorang seorang telekinetis pure (yang sudah mempunyai gen telekinesis di dalam tubuhnya tanpa didapat dari serum, melainkan sudah dimilki sejak lahir karena faktor keturunan). Gen seorang Minerva lah yang dijadikan bahan utama dalam serum yang disuntikkan pada tubuh para gen holder. Seorang Minerva bisa mengembangkan kemampuannya dan menjadi seorang Jupiter, tapi jika ia memilih untuk tidak mengembangkannya sama sekali, maka kemampuan telekinesisnya tak akan bisa dipergunakan sama sekali.
Transfigurator adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mengubah wujudnya, sehingga orang lain bisa melihatnya dengan wujud yang berbeda dari aslinya. Sebelum dikembangkan, seorang Transfigurator hanya bisa mengandalkan ilusi dari orang yang ia kehendaki, sehingga orang itu melihatnya dengan wujud yang berbeda. Tapi setelah dikembangkan, seorang Transfigurator akan bisa merubah semua sel-sel, organ tubuh, dan rupanya menjadi persis seperti orang yang dikehendakinya (nama lainnya adalah Shape-shifter).
Teleporter adalah seseorang yang bisa mengendalikan/berpindah-pindah ruang dan waktu. Dalam artian disini, ia bisa pergi menjelajah waktu baik itu ke masa lalu, ke masa depan, atau ke tempat-tempat yang dikehendakinya. Bila dikembangkan, seorang Teleporter juga akan bisa melakukan penghentian, perlambatan, dan percepatan waktu.
Telekinetis adalah seseorang yang mempunya kemampuan untuk memindahkan benda atau apapun hanya dengan kekuatan pikiran, dalam arti ia tak perlu berada di dekat atau bahkan menyentuh objek yang akan ia pindahkan sama sekali. Setelah dikembangkan, seorang telekinesis akan bisa mengendalikan semua elemen yang ada di sekitarnya seperti angin, api, air dan tanah. Telekinetis terbagi menjadi telekinetis pure dan non-pure.
Para Gen Holders di dunia tentunya mempunyai beberapa golongan, yaitu: Jupiter, Minerva, dan Juno.
Setiap Jupiter adalah gen holder yang telah mengembangkan kemampuan super dalam dirinya, sehingga ia mendapatkan kemampuan-kemampuan lain yang telah dikembangkan dari kemampuan asalnya (misalnya seorang Jupiter Teleporter, tadinya ia hanya bisa menjelajah waktu, tapi setelah menjadi seorang Jupiter ia akan mampu menghentikan, mempercepat, memperlambat waktu, memprediksi masa depan dan masa lalu, dan lain-lain sesuai kemampuannya).
Seorang Juno adalah gen holder yang tidak pernah mengembangkan kemampuannya, dan hanya memanfaatkan kemampuan dasarnya saja.
Minerva adalah seorang seorang telekinetis pure (yang sudah mempunyai gen telekinesis di dalam tubuhnya tanpa didapat dari serum, melainkan sudah dimilki sejak lahir karena faktor keturunan). Gen seorang Minerva lah yang dijadikan bahan utama dalam serum yang disuntikkan pada tubuh para gen holder. Seorang Minerva bisa mengembangkan kemampuannya dan menjadi seorang Jupiter, tapi jika ia memilih untuk tidak mengembangkannya sama sekali, maka kemampuan telekinesisnya tak akan bisa dipergunakan sama sekali.
Friday, 14 February 2014
CUPLIKAN MASKS PART 2 :-P
My favorite scene, the night of Shenia and Stefhan;s first date <3
“Oke, jangan bahas tragedi apa pun,” ujarku akhirnya. “Maukah kau
mengucapkan sepatah kata saja padaku?”
Di luar dugaan, ia memalingkan wajahnya padaku. Ekspresinya masih
tidak semanis biasanya, tapi setidaknya ia berusaha mengukir sedikit
senyum di wajahnya yang kaku tapi begitu halus tanpa cela.
Itu tetap membuatku merasa lebih baik.
Ketika aku memperhatikan jalan, kami sudah sampai di kilometer 21. Itu
artinya sebentar lagi kami sudah keluar jalan tol. Sudah saatnya aku berpisah
dengan Stefhan, demi apa pun yang mendadak ingin diurusinya malam ini.
Hatiku tiba-tiba merasa tidak enak—atau tidak puas.
Stefhan menepikan mobilnya ke kiri, agak canggung, entah apa yang
menjadi penyebabnya. Ia tak mematikan mesin, itu tandanya ia tidak sedang
ingin mengajakku bicara banyak. Dan sesuai dengan dugaanku, ia hanya menjulurkan
tangan kirinya menggapai bahu kiriku, meraih tubuhku mendekat
padanya. Ketiba-tibaan ini membuatku terenyak kaget. Namun beberapa
detik kemudian, aku sudah nyaman menyandarkan kepalaku di bahunya.
Pelukannya lebih hangat dari selimut mana pun yang pernah menutupi
tubuhku, melindungiku dari udara dingin.
“Kita akan menunggu di sini sampai kendaraan yang menjemputmu
datang,” katanya.
“Aku akan menikmatinya kalau begitu.”
“Apanya?”
“Detik-detik terakhirku dekat denganmu malam ini.”
“Aku akan menemuimu lagi, Shenia.” Ia sedikit tersenyum. “Bahkan
mungkin sedikit lebih sering.”
“Aku tetap ingin menikmatinya,” ulangku.
Aku merasakan Stefhan menggeleng-gelengkan kepalanya ringan di
atas kepalaku. “Kau tahu? Kau satu-satunya orang yang bisa mengendalikan
perasaanku.”
“Mengendalikan bagaimana?”
“Aku berusaha semampuku untuk menyembunyikannya. Semenit yang
lalu, perasaanku masih belum sebaik ini dan—”
“Kau sama sekali tidak berhasil menyembunyikannya,” potongku.
“—dan sekarang kau membuatnya jauh lebih baik,” lanjutnya, senyumnya
melebar.
Aku mengangkat bahu. “Aku tak melakukan apa pun.”
“Kau bilang kau ingin menikmati waktu bersamaku, itu yang membuat
perasaanku membaik.”
“Memangnya apa istimewanya?” Aku menunduk, menyembunyikan
wajahku yang memerah walau aku tahu di dalam mobil yang gelap ia tak
mungkin bisa melihatnya.
“Shenny.” Ia menggunakan sebelah tangannya untuk mengangkat
daguku hingga wajahku hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Suara
degupan jantungku yang memalukan tak bisa kukontrol lagi. “Segala hal yang
berhubungan denganmu—semuanya—sangat penting bagiku.”
Aku tertegun, tetap tak sanggup memalingkan tatapanku dari mata
indahnya yang menatapku tajam.
“Apa kau masih belum paham apa maksudnya?” tambahnya.
Kini jemarinya yang lembut merengkuh wajahku. Matanya begitu lekat
menatap wajahku sampai aku merasakan hidung kami bersentuhan. Aku
masih belum bisa berkata apa-apa. Bagaimana aku bisa berkata sesuatu?
Darah yang naik ke otakku karena rasa gugup sialan ini membuat
kepalaku semakin pening, hampir-hampir aku sulit bernapas.
“Sudah sedekat ini, kau masih belum menyadari kalau aku mencintaimu?”
Dan sepersekian detik kemudian, aku sudah larut dalam fantasiku.
***
“Oke, jangan bahas tragedi apa pun,” ujarku akhirnya. “Maukah kau
mengucapkan sepatah kata saja padaku?”
Di luar dugaan, ia memalingkan wajahnya padaku. Ekspresinya masih
tidak semanis biasanya, tapi setidaknya ia berusaha mengukir sedikit
senyum di wajahnya yang kaku tapi begitu halus tanpa cela.
Itu tetap membuatku merasa lebih baik.
Ketika aku memperhatikan jalan, kami sudah sampai di kilometer 21. Itu
artinya sebentar lagi kami sudah keluar jalan tol. Sudah saatnya aku berpisah
dengan Stefhan, demi apa pun yang mendadak ingin diurusinya malam ini.
Hatiku tiba-tiba merasa tidak enak—atau tidak puas.
Stefhan menepikan mobilnya ke kiri, agak canggung, entah apa yang
menjadi penyebabnya. Ia tak mematikan mesin, itu tandanya ia tidak sedang
ingin mengajakku bicara banyak. Dan sesuai dengan dugaanku, ia hanya menjulurkan
tangan kirinya menggapai bahu kiriku, meraih tubuhku mendekat
padanya. Ketiba-tibaan ini membuatku terenyak kaget. Namun beberapa
detik kemudian, aku sudah nyaman menyandarkan kepalaku di bahunya.
Pelukannya lebih hangat dari selimut mana pun yang pernah menutupi
tubuhku, melindungiku dari udara dingin.
“Kita akan menunggu di sini sampai kendaraan yang menjemputmu
datang,” katanya.
“Aku akan menikmatinya kalau begitu.”
“Apanya?”
“Detik-detik terakhirku dekat denganmu malam ini.”
“Aku akan menemuimu lagi, Shenia.” Ia sedikit tersenyum. “Bahkan
mungkin sedikit lebih sering.”
“Aku tetap ingin menikmatinya,” ulangku.
Aku merasakan Stefhan menggeleng-gelengkan kepalanya ringan di
atas kepalaku. “Kau tahu? Kau satu-satunya orang yang bisa mengendalikan
perasaanku.”
“Mengendalikan bagaimana?”
“Aku berusaha semampuku untuk menyembunyikannya. Semenit yang
lalu, perasaanku masih belum sebaik ini dan—”
“Kau sama sekali tidak berhasil menyembunyikannya,” potongku.
“—dan sekarang kau membuatnya jauh lebih baik,” lanjutnya, senyumnya
melebar.
Aku mengangkat bahu. “Aku tak melakukan apa pun.”
“Kau bilang kau ingin menikmati waktu bersamaku, itu yang membuat
perasaanku membaik.”
“Memangnya apa istimewanya?” Aku menunduk, menyembunyikan
wajahku yang memerah walau aku tahu di dalam mobil yang gelap ia tak
mungkin bisa melihatnya.
“Shenny.” Ia menggunakan sebelah tangannya untuk mengangkat
daguku hingga wajahku hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Suara
degupan jantungku yang memalukan tak bisa kukontrol lagi. “Segala hal yang
berhubungan denganmu—semuanya—sangat penting bagiku.”
Aku tertegun, tetap tak sanggup memalingkan tatapanku dari mata
indahnya yang menatapku tajam.
“Apa kau masih belum paham apa maksudnya?” tambahnya.
Kini jemarinya yang lembut merengkuh wajahku. Matanya begitu lekat
menatap wajahku sampai aku merasakan hidung kami bersentuhan. Aku
masih belum bisa berkata apa-apa. Bagaimana aku bisa berkata sesuatu?
Darah yang naik ke otakku karena rasa gugup sialan ini membuat
kepalaku semakin pening, hampir-hampir aku sulit bernapas.
“Sudah sedekat ini, kau masih belum menyadari kalau aku mencintaimu?”
Dan sepersekian detik kemudian, aku sudah larut dalam fantasiku.
***
Tuesday, 11 February 2014
Ariana Grande and Nathan Sykes - Almost is Never Enough lyric
"Almost
Is Never Enough"
(with Nathan Sykes)
(with Nathan Sykes)
I'd like
to say we gave it a try
I'd like to blame it all on life
Maybe we just weren't right, but that's a lie, that's a lie
And we can deny it as much as we want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows
Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms
And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
If I could change the world overnight
There'd be no such thing as goodbye
You'd be standing right where you were
And we'd get the chance we deserve
Try to deny it as much as you want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows
Almost, almost is never enough
We were so close to being in love
If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms
And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
Oh, oh baby, you know, you know, baby
Almost, baby, is never enough, baby
You know
And we can deny it as much as we want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows
Almost, almost is never enough (is never enough, babe)
We were so close to being in love (so close)
If I would have known that you wanted me the way I wanted you (babe)
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms
And we almost, we almost knew what love was (baby)
But almost is never enough
Oh, oh baby, you know, you know, baby
Almost is never enough baby
You know
I'd like to blame it all on life
Maybe we just weren't right, but that's a lie, that's a lie
And we can deny it as much as we want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows
Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms
And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
If I could change the world overnight
There'd be no such thing as goodbye
You'd be standing right where you were
And we'd get the chance we deserve
Try to deny it as much as you want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows
Almost, almost is never enough
We were so close to being in love
If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms
And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
Oh, oh baby, you know, you know, baby
Almost, baby, is never enough, baby
You know
And we can deny it as much as we want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows
Almost, almost is never enough (is never enough, babe)
We were so close to being in love (so close)
If I would have known that you wanted me the way I wanted you (babe)
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms
And we almost, we almost knew what love was (baby)
But almost is never enough
Oh, oh baby, you know, you know, baby
Almost is never enough baby
You know
INI DIA CUPLIKAN DARI BOOK TWO: TIME(s)! :-D (Warning, containts spoiler!)
“Grand Piano
itu?” tanyaku padanya.
“Itu hadiah
ulang tahun dari Stefhan.” jawab John. Cepat-cepat aku berpaling menatap
Stefhan yang membuat wajah tak bersalah dan menatap kearah Grand Piano
keperakan yang baru kusadari pernah kulihat di malam kencan pertamaku
dengannya, di toko peralatan musik milik keluarga Robin Hudgeson.
“Kau pernah bilang
itu bagus,” alibi Stefhan.
“Kubilang
bagus untukmu!” tukasku.
“Cemerlang
sekali, Stefhan. Sekarang aku baru sadar apa yang kurang dari ruangan ini.”
John membela Stefhan.
Aku memutar
bola mata.
“Oke.
Terimakasih.”
“Apapun untukmu.”
jawab Stefhan. Ia lalu mencondongkan tubuh kearahku. “Kupikir suatu saat juga
ibumu pasti akan menyewa seorang guru les piano. Jadi kenapa tidak sekarang
saja?”
“Semua demi
berdekatan denganku, tentu saja.” desahku, setengah berbisik. “Tapi hadiahmu
selalu berlebihan, bagaimana mungkin aku bisa memberimu yang setara dengan
ini?”
“Tak ada satu
bagianpun dari dirimu yang setara dengan apapun bagiku.”
“Hmmm.” Aku
menyerah. “Berapa tanggal ulangtahunmu?”
Stefhan
tertawa. “Kau tidak pernah melihat-lihat profil facebook-ku atau bagaimana?”
“Tidak adil
kalau hanya kau saja yang tahu hal-hal mengenaiku,” ketusku. “Dan aku sedang
mencari peluang untuk balas budi.”
“Tidak perlu
repot-repot,” sanggahnya. “Lagipula, ngomong-ngomong, ini hanya sebagian kecil dari
segala hal yang sanggup kuberikanuntukmu. Jadi kau tidak usah capek-capek
memikirkan balas budi, aku tidak pernah mengharapkan apa-apa, bagiku bisa
melihatmu saja sudah impas.”
“Satu hal
saja, Stefhan, aku mohon jangan pernah memberiku apapun lagi sebelum aku
benar-benar membutuhkannya. Maukah kau berjanji?”
Stefhan
mengerutkan dahinya, menatap kesungguhan tatapanku selama beberapa detik,
kemudian mengangguk dengan enggan.
“Jadi kapan?”
tanyaku lagi.
“Apanya?”
“Tanggal
ulangtahunmu, kau pikir aku sedang menanyakan kapan kita bisa memulai
perjalanan keliling Eropa?”
“Tadinya
kuharap begitu.”
Aku mengerling
tajam kearahnya.
“Baiklah,
baiklah, 23 Desember.” jawabnya sambil mengangkat kedua tangan. “Begitu?”
Aku mendesah
lega dan tersenyum padanya.
“Tapi,”
lanjutnya lagi―ia tersenyum, namun memandangku bersikeras. “Dari semua hadiah
yang kutawarkan, kurasa kau tak akan menolak yang satu ini.”
Ia kemudian
membelai-belai pipiku dengan sebelah tangannya, kehangatan yang menjalar ke
pori-poriku sangat luar biasa. Aku menundukkan kepala, sebelah tanganku
mengelus liontin keperakan Tiffany’s berbentuk dua huruf ‘S’ yang saling
bersilangan membentuk simbol infinity―pemberian
Stefhan di malam ia memintaku untuk menjadi tunangannya―lalu mulai merasa gugup.
Otakku tak lagi mengingat apa yang ingin kutanyakan pada Stefhan sebelumnya,
terlalu sibuk memikirkan cara untuk menemukan suatu tempat dirumah ini yang jauh
dari jangkauan pandang keluargaku, lalu tenggelam dalam-dalam di pelukan paling
menentramkan sedunia milik Stefhan. (from Time[s] by Aya Swords)
Review MASKS(s), Novel Romance Berbau Science-Fiction
Buat kamu-kamu semua yang suka baca novel, terutama novel-novel romance yang berbau fantasi atau yang genrenya sedikit 'gak biasa', jangan ragu lagi, coba cicipin deh novel yang judulnya Mask(s) ini. Novel yang berkisah tentang kehidupan sepasang kekasih (cikiciw) bernama Shenia dan Stefhan ini bakalan jadi cerita yang bikin kamu gereget. Alur ceritanya sendiri ga selalu maju, tapi juga ga selalu mundur (kayak setrikaan) jadi ga bakal bikin kamu bosan, karena saat kamu membaca satu adegan, kamu akan menemukan lagi keterkaitan antara beberapa kejadian dan insiden-insiden penting yang ada dalam cerita ini. Selain romance, kamu juga bisa ngerasain bumbu-bumbu action dan kejadian-kejadian yang memicu adrenalin dalam cerita di novel ini. Gimana, udah penasaran belum? :-p
Walau sedikit banyak setting yang digunakan adalah luar negeri, tapi sebenarnya novel ini berkisah tentang seorang gadis muda asal Indonesia, namanya Shenia. Mask(s) sendiri adalah buku pertama (kalau buku pertama pasti ada sekuelnya hehehe) yang settingnya sendiri berada di Indonesia, tepatnya di Jakarta.
Nah, bicara soal genre, kenapa genrenya disebut 'gak biasa'? Karena biasanya cerita-cerita romance-fantasy yang belakangan ini sedang beredar lebih menitik beratkan kepada latar belakang kehidupan para pemeran utama yang benar-benar pure fantasy si penulis (misalnya vampir, malaikat, makhluk gaib, atau pemburu makhluk-makhluk gaib), tapi di Mask(s) ini rupanya ceritanya agak sedikit berbeda dari yang lain, karena salah satu pemeran utama di buku ini punya semacam kekuatan Super Hero yang juga diciptakan oleh tangan-tangan manusia. Disinilah kamu bisa merasakan hawa-hawa science-fictionnya, hehehe :-)
Cerita bermulai dari kepindahan Shenia dari Bandung ke Jakarta. Kepindahannya dilatar belakangi dari keinginan ayah tirinya yang ingin Shenia hidup lebih terjamin dan mendapatkan segala fasilitas yang cukup, atau mungkin lebih dari cukup, karena ayah tiri bersama ibu kandung dan adik-adiknya akan sesegera mungkin meninggalkan indonesia dan menetap di London, Inggris.
Shenia tentu merasa sedih, tapi ini konsekuensi yang harus ia hadapi saat ia memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia sampai masa-masa SMAnya selesai. Ia juga harus menerima ketika John, ayah tirinya, mendaftarkannya untuk masuk ke The Grand International High School of Jakarta, sekolah internasional pilihannya.
Di sekolah itulah ia akhirnya bertemu dengan teman-teman baru termasuk Stefhan Hudgeson, si pemuda tampan yang kabarnya adalah putra dari kepala dewan sekolah. Stefhan adalah pemuda yang penuh daya tarik, ramah tamah, cerdas dan bersahaja, hampir semua gadis menyukainya. Pada akhirnya, Shenia pun tertarik padanya. Tapi bukan karena ketampanan dan segala hal-hal umum yang dimilikinya yang terlihat oleh kasat mata. Shenia menyukainya karena segala rahasia yang dimiliki Stefhan, yang secara tak sengaja ia temukan satu-persatu...
Sampai pada akhirnya, saat mereka sudah terlanjur saling mencintai dan terikat satu sama lain, Shenia pun tidak memiliki jalan untuk kembali. Ia hanya bisa terus berada di sisi Stefhan, mencintainya dengan sepenuh hati dan menghadapi segala hal yang menjadi resikonya....
Nah, itu dia sedikit gambaran ceritanya. Penasaran pengen tahu lebih lanjut? Baca aja novelnya :-) bisa ditemukan di toko-toko buku Gramedia, Gunung Agung,Togamas dan lain-lainnya. Happy reading ;-)
Walau sedikit banyak setting yang digunakan adalah luar negeri, tapi sebenarnya novel ini berkisah tentang seorang gadis muda asal Indonesia, namanya Shenia. Mask(s) sendiri adalah buku pertama (kalau buku pertama pasti ada sekuelnya hehehe) yang settingnya sendiri berada di Indonesia, tepatnya di Jakarta.
Nah, bicara soal genre, kenapa genrenya disebut 'gak biasa'? Karena biasanya cerita-cerita romance-fantasy yang belakangan ini sedang beredar lebih menitik beratkan kepada latar belakang kehidupan para pemeran utama yang benar-benar pure fantasy si penulis (misalnya vampir, malaikat, makhluk gaib, atau pemburu makhluk-makhluk gaib), tapi di Mask(s) ini rupanya ceritanya agak sedikit berbeda dari yang lain, karena salah satu pemeran utama di buku ini punya semacam kekuatan Super Hero yang juga diciptakan oleh tangan-tangan manusia. Disinilah kamu bisa merasakan hawa-hawa science-fictionnya, hehehe :-)
Cerita bermulai dari kepindahan Shenia dari Bandung ke Jakarta. Kepindahannya dilatar belakangi dari keinginan ayah tirinya yang ingin Shenia hidup lebih terjamin dan mendapatkan segala fasilitas yang cukup, atau mungkin lebih dari cukup, karena ayah tiri bersama ibu kandung dan adik-adiknya akan sesegera mungkin meninggalkan indonesia dan menetap di London, Inggris.
Shenia tentu merasa sedih, tapi ini konsekuensi yang harus ia hadapi saat ia memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia sampai masa-masa SMAnya selesai. Ia juga harus menerima ketika John, ayah tirinya, mendaftarkannya untuk masuk ke The Grand International High School of Jakarta, sekolah internasional pilihannya.
Di sekolah itulah ia akhirnya bertemu dengan teman-teman baru termasuk Stefhan Hudgeson, si pemuda tampan yang kabarnya adalah putra dari kepala dewan sekolah. Stefhan adalah pemuda yang penuh daya tarik, ramah tamah, cerdas dan bersahaja, hampir semua gadis menyukainya. Pada akhirnya, Shenia pun tertarik padanya. Tapi bukan karena ketampanan dan segala hal-hal umum yang dimilikinya yang terlihat oleh kasat mata. Shenia menyukainya karena segala rahasia yang dimiliki Stefhan, yang secara tak sengaja ia temukan satu-persatu...
Sampai pada akhirnya, saat mereka sudah terlanjur saling mencintai dan terikat satu sama lain, Shenia pun tidak memiliki jalan untuk kembali. Ia hanya bisa terus berada di sisi Stefhan, mencintainya dengan sepenuh hati dan menghadapi segala hal yang menjadi resikonya....
Nah, itu dia sedikit gambaran ceritanya. Penasaran pengen tahu lebih lanjut? Baca aja novelnya :-) bisa ditemukan di toko-toko buku Gramedia, Gunung Agung,Togamas dan lain-lainnya. Happy reading ;-)
Wednesday, 16 October 2013
1. #FridayTalk Selamat malam @ayaswords , sedang
sibuk apa belakangan ini?
Selamat malam @grasindo_id, biasa, sedang hectic
sama tugas kuliah plus nulis naskah selanjutnya aja :-)
2.
#FridayTalk Apa yang menginspirasi @ayaswords ketika dalam menulis #MASKS, kenapa dipilih judul itu?
Sebenarnya tokoh-tokoh dalam #MASKS ini nyata dan
ada di dalam hidup saya. Mereka termasuk orang-orang yang dekat dengan saya,
jadi, karakter dan cerita hidup merekalah yang saya jadikan inspirasi. Saya ini
sebenarnya suka sekali dengan tipe-tipe cerita yang ‘ga biasa’, cenderung
fantasi tapi juga mendekati realitas. Nah, tipe cerita ‘ga biasa’ itu saya
gabungkan dengan karakter-karakter tokoh yang unik pula, jadilah sebuah cerita
yang ‘spesial’ (menurut saya hehehe).
Kalau soal pemilihan judul, waktu itu saya sempat
kesulitan. Naskah saya sudah jadi tapi belum ada judul hahaha. Tapi kemudian
saya terpikir judul yang unik ini, kenapa judulnya bisa #MASKS? nanti juga
pembaca tahu kalau sudah baca novelnya hehehe.
3.
#FridayTalk Apa yang menarik dari #MASKS menurut @ayaswords , bisa ceritakan sedikit kepada #sobatGRASINDO?
Yang menarik dari novel ini menurut saya tentu
kisah cinta penuh komplikasi antara Shenia dan Stefhan, juga sedikit bumbu
science-fictionnya. Novel ini secara praktis bercerita tentang gadis biasa
bernama Shenia yang jatuh cinta pada pemuda sempurna seperti Stefhan, namun
ternyata dibalik kesempurnaan itu banyak komplikasi bahkan bahaya yang nantinya
akan membayangi kehidupan keduanya, juga orang-orang terdekat mereka. Namun
istimewanya, kuatnya cinta Stefhan dan Shenia membuat keduanya rela mengambil
resiko apa saja untuk tetap bersama, bahkan hampir mati karenanya. Saya ingin
saja cerita cinta berbau ‘romeo&juliet’ seperti ini masih ada, apalagi
settingnya kan di indonesia, keren aja kayaknya. Hehehe.
4.
#FridayTalk @ayaswords cerita ini merupakan perpaduan
kisah romansa berbalut fantasi fiksi ilmiah? Bisa dijelaskan sedikit?
Iya. Sekalian sedikit bocoran saja ya, jadi tokoh
utama cewek disini, Shenia, jatuh cinta pada Stefhan yang notabene adalah
seorang pemuda berkemampuan khusus. Kemampuan khusus ini dia dapatkan dari
sebuah serum yang berisi kandungan zat yang bisa meningkatkan kapabilitas stem
cell sehingga bisa membuat sifat-sifat ‘super’ dalam tubuh manusia. Sebenarnya
percobaan rekayasa genetika seperti ini (The Human Genome Project) pernah ada
dan diselenggarakan oleh negara-negara adikuasa dunia pd tahun 1990, hanya saja
saat itu belum berhasil. Nah, di novel ini saya menghayalkan bagaimana
seandainya jika program tersebut benar-benar berhasil namun dirahasiakan dari
masyarakat global. Begitu.
5.
#FridayTalk @ayaswords Dlm cerita #MASKS ada tokoh Stefhan dan Shenia, karakter apa yang unik dari
mereka?
Shenia itu sebenarnya gadis biasa, masih polos dan
sedikit tertutup. Sebelumnya kehidupan dia biasa-biasa saja. Namun setelah
bertemu dengan Stefhan, ia jadi tahu bagaimana rasanya menambatkan hati dan
merasa ‘terikat’ dengan orang yang dia cintai. Hingga apapun kenyataan yang
harus dia terima dan kejadian membahayakan yang harus ia alami, ia tetap ingin
bersama-sama Stefhan.
Lalu Stefhan, pemuda dengan kemampuan khusus.
Stefhan ini sebenarnya sudah pernah bertemu dengan Shenia di masa kecilnya,
yang Shenia sendiri saja sudah tidak ingat. Tapi sejak bertemu lagi dengan
Shenia, Stefhan tahu bahwa gadis dari masa kecilnya itu benar-benar takdirnya.
Shenia adalah orang yang harus ia lindungi, harus ia kasihi. Itulah makanya
Stefhan sampai rela mengikuti Shenia yg kembali lg ke Indonesia. Lalu akhirnya
mereka dekat dan saling mencintai.
6.
#FridayTalk
Menurut informasi yang kami dapatkan, benar @ayaswords merencanakan sekuel dari
#MASKS?
Yup. Ceritanya sengaja saya buat sedikit ‘gantung’
pada buku satu, soalnya menurut saya, cerita #MASKS ini belum selesai dan masih
banyak hal luar biasa yang harus saya ceritakan kepada pembaca. Entah jadinya 2
atau 3 buku, pokoknya saya harus buat sekuelnya. Hehehe. Yang sudah baca #MASKS
sih memang pada nagih lanjutannya. Saat ini sedang dalam proses, doakan saja ya :-)
7.
#FridayTalk
Dalam menyelesaikan #MASKS apakah @ayaswords menemukan kesulitan dalam
pengerjaannya?
Kesulitannya hanya satu: malas menulis jika sudah
buntu. Saya rasa itulah hambatan terbesar bagi sebagian besar penulis. Karena
kesulitan itu, saya sampai harus menunda naskah ini sekitar 3 tahun. Tapi
Alhamdulillah akhirnya selesai juga dan diterbitkan oleh @grasindo_id J
8.
#FridayTalk Boleh kita minta @ayaswords berbagi proses
kreatifnya dlm menulis #MASKS kepada
#sobatGRASINDO?
Kalau saya sih biasanya:
1.
Saat dapat ide, langsung tulis. Mau di kertas
buku, kertas tisu, note handphone, pokoknya tulis. Karena ide datang seenaknya
dan mudah terlupakan.
2.
Nulis itu ga harus tersusun. Kita tinggal tulis
ide-ide kita, lalu kalau sudah banyak baru disusun dan disambung-sambungkan
jadi sebuah plot cerita.
3.
Saat buntu atau ga ada ide, jangan dipaksakan.
Pergilah ke tempat-tempat menyenangkan, atau nonton film-film seru, atau baca
novel-novel bagus. Nanti juga inspirasi itu (dengan seenaknya) datang sendiri :-)
9.
#FridayTalk Apa pesan yang ingin @ayaswords
sampaikan kepada para pembaca lewat #MASKS?
Klasik sih, tapi saya termasuk gadis polos yang
percaya bahwa cinta dan jodoh sejati itu ada. Hahaha. Entah siapa dan kapan
kita menemukannya, Tuhan sudah menyiapkan. Nanti, saat rasanya kita menemukan
‘dia’, jangan sia-siakan sedikitpun waktu, berusahalah ciptakan sebuah hubungan
yang bahagia, “because true love is when you’ve seen the best
and the worst of someone, and still you love them just the same way.”
10.
#FridayTalk Adakah novel baru yang sedang @ayaswords garap? Sudah sejauh mana
prosesnya?
Yang sedang digarap sih ada 2, yang satu novel yang akan
dikirimkan untuk #PSA2 dan satu lagi novel sekuel dari #MASKS yang sedikit2
sudah saya konsultasikan juga dengan editor saya di #MASKS. Dua-duanya masih
dalam proses penulisan. Sekuel #MASKS rencananya akan saya lanjutkan desember
nanti, sekarang mau konsen ke #PSA2 dulu. Lalu ada juga rencana untuk bikin
novel duet genre thriller sama salah satu penulis grasindo jg, teh
@tita_rosianti, walau baru sebatas rencana sih hehehehe. Doakan saja yaaaa J
Subscribe to:
Posts (Atom)









